Menu

Mode Gelap
AHY Gaungkan Gerakan Langit Biru Indonesia Asri, Kepala Bappilu Demokrat: Lingkungan Bersih adalah Magnet Investasi Baru Satu SPPG di Pacitan Kantongi KKPR, Puluhan Dapur MBG Sudah Beroperasi BPBD Pacitan Minta Donatur dan Relawan Koordinasi Sebelum Droping Air Bersih Harga Telur di Pacitan Anjlok, Peternak Lokal Kelimpungan Dihantam Pasokan dari Luar Daerah Air Telaga Kembeng Surut, Warga Ketro, Pacitan Berburu Ikan Nila Berawal dari 170 Baglog, Pasutri di Wonoanti Pacitan Kini Kelola 25 Ribu Baglog Jamur Tiram

Bencana Alam

Sumur Bor Kampus ISIMU di Sedeng Pacitan Keluar Air Asin, BPBD Surati PVMBG

badge-check


 Sumur Bor Kampus ISIMU di Sedeng Pacitan Keluar Air Asin, BPBD Surati PVMBG Perbesar

Pacitan – lensapacitan.com, Pembuatan sumur bor di kawasan pembangunan Kampus Institut Studi Islam Muhammadiyah (ISIMU), Dusun Kebon, Desa Sedeng, Kecamatan Pacitan, mengeluarkan air dengan rasa asin. Fenomena ini diketahui oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan setelah berdiskusi dengan relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) beberapa waktu lalu.

“Teman-teman MDMC bercerita, saat mereka membuat sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air masjid dan kampus kedepannya, air yang keluar ternyata asin,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko (9/12/2024).

Erwin menjelaskan bahwa pengeboran tersebut mencapai kedalaman 100 meter. “Secara kasat mata, air asin itu tampaknya air laut,” tambahnya.

Hal ini cukup mengejutkan karena lokasi pembangunan masjid dan kampus berjarak lebih dari 2,5 kilometer dari bibir pantai dengan ketinggian 65 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Atas fenomena ini, BPBD Pacitan telah mengirim surat kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk memastikan struktur batuan di kawasan tersebut. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah air asin yang ditemukan berasal dari rembesan air laut atau ada faktor geologis lainnya.

“Hal ini perlu diteliti untuk memastikan apakah struktur batuan di Pacitan dominan karang atau pasir. Jika dominan pasir, potensi likuifaksi seperti yang terjadi di Palu bisa saja terjadi di sini. Kita tidak pernah tahu, dan ini sesuatu yang perlu diantisipasi,”pungkasnya. (not)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Simulasi Laka Air Warnai Peringatan HKB 2026 di Watu Mejo Mangrove Park Pacitan

26 April 2026 - 21:21 WIB

Anggota Polisi di Pacitan Peringati HPN 2026 dengan Aksi Sosial Bersama Wartawan

10 Februari 2026 - 14:55 WIB

Bupati Pacitan Tinjau Rumah Warga Terdampak Gempa di Desa Menadi

6 Februari 2026 - 14:10 WIB

Warga Desa Kembang Latihan Tanggap Darurat Gempa dan Tsunami di Watu Mejo

25 September 2025 - 23:23 WIB

BPBD Bentuk Desa Tangguh Bencana di Pucangombo Tegalombo

23 September 2025 - 23:41 WIB

Trending di Bencana Alam