Menu

Mode Gelap
Pikap Jatuh ke Tepi Sungai Grindulu di Pacitan, Pengemudi Luka Ringan Bendahara Desa Klesem Jadi Atensi Polisi, Kapolres Pacitan Kumpulkan 30 Kades Pura-pura Dibegal, Warga Arjosari Pacitan Ternyata Gadaikan Motor Setelah Kalah Slot Lima ODGJ di Pacitan Direhabilitasi, Kapolres Turun Langsung Lepas Pasung Karmin Sepanjang 2025, Damkar Satpol PP Pacitan Tangani Puluhan Kebakaran dan Ratusan Evakuasi Unik Wisata Sungai Maron Kian Hijau, PLN Nusantara Power Hadirkan Energi Bersih dan Pemberdayaan Warga

Pemerintahan

Ketidakakuratan Data DTSEN Picu Keluhan Bansos di Pacitan, Pendamping PKH: “Kunci Perbaikan Ada di Desa”

badge-check


 Ketidakakuratan Data DTSEN Picu Keluhan Bansos di Pacitan, Pendamping PKH: “Kunci Perbaikan Ada di Desa” Perbesar

LENSA PACITAN-Keluhan warga mengenai bantuan sosial (bansos) yang dianggap tidak tepat sasaran kembali menyeruak di sejumlah desa di Pacitan. Warga menilai penerima bantuan sering kali tidak berubah dan bahkan diduga masih didominasi oleh kalangan yang memiliki kedekatan dengan perangkat desa.

Menanggapi hal tersebut, Dinas Sosial Kabupaten Pacitan bersama para pendamping lapangan memberikan penjelasan terkait mekanisme pendataan yang kerap menjadi sumber polemik. Saat ini, data penerima bansos mengacu pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), sebuah basis data terpadu yang merupakan penggabungan dari DTKS Kemensos, P3KE, dan Regsosek BPS.

Meski begitu, Koordinator Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Pacitan, Tuwarno, mengungkapkan bahwa DTSEN masih belum benar-benar stabil dan akurat. Menurutnya, data tersebut bersifat dinamis dan tidak jarang terjadi kondisi di mana data yang sudah seharusnya tidak lagi aktif justru muncul kembali.

“DTSEN itu belum benar-benar final. Kadang ada data yang sudah semestinya dihapus, tapi tiba-tiba muncul lagi,” jelasnya, Jumat (5/12/2025).

Ia juga menyebutkan bahwa ketidaktepatan sasaran bantuan sering terjadi karena data yang tersimpan tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya di lapangan. Misalnya, warga tercatat sebagai desil 1 atau kategori paling miskin, namun kenyataannya memiliki aset bernilai tinggi seperti perhiasan mahal hingga kendaraan roda empat.

“Didata mereka seolah tidak punya apa-apa, padahal faktanya punya aset. Ini membuat sistem tetap menempatkan mereka pada desil rendah,” tambahnya.

Proses penentuan desil dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), yang kemudian menjadi acuan utama penetapan penerima bansos. Di sisi lain, Tuwarno menekankan bahwa desa memiliki posisi paling strategis dalam memastikan akurasi data.

“Secara teori, desa adalah pihak yang paling berwenang memperbaiki data. Mereka punya akses untuk melakukan pembaruan. Kalau desa tidak aktif memperbarui, maka data tidak akan berubah,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah desa lebih proaktif melakukan verifikasi dan pembaruan data agar penyaluran bansos benar-benar tepat sasaran.

Jika ingin dibuatkan versi yang lebih pendek, lebih formal, atau untuk voice over video, saya bisa bantu sesuaikan.(Not)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Inspektorat Pacitan Selidiki Dugaan Penyelewengan Dana Desa Klesem

14 Januari 2026 - 22:06 WIB

Bendahara Desa Klesem Diduga Gelapkan Dana Desa, Kabur Bawa Laptop dan Berkas Penting

13 Januari 2026 - 12:12 WIB

ADD Desa di Pacitan Turun Rp4 Miliar, Pemdes Diminta Berhemat

7 Januari 2026 - 20:04 WIB

Pemkab Pacitan Terapkan Labelisasi Rumah Penerima Bansos, Ini Tujuannya

1 Januari 2026 - 19:44 WIB

Kasus Korupsi Dana Desa di Pacitan Mengemuka, Polres Pacitan Akan Buka Bukaan Di Februari 2026

30 Desember 2025 - 20:36 WIB

Trending di Pemerintahan