Menu

Mode Gelap
AHY Gaungkan Gerakan Langit Biru Indonesia Asri, Kepala Bappilu Demokrat: Lingkungan Bersih adalah Magnet Investasi Baru Satu SPPG di Pacitan Kantongi KKPR, Puluhan Dapur MBG Sudah Beroperasi BPBD Pacitan Minta Donatur dan Relawan Koordinasi Sebelum Droping Air Bersih Harga Telur di Pacitan Anjlok, Peternak Lokal Kelimpungan Dihantam Pasokan dari Luar Daerah Air Telaga Kembeng Surut, Warga Ketro, Pacitan Berburu Ikan Nila Berawal dari 170 Baglog, Pasutri di Wonoanti Pacitan Kini Kelola 25 Ribu Baglog Jamur Tiram

Ekonomi

Katiyem, Wanita Perajin Kalakan: Kisah Sukses Memelihara Tradisi dan Menghadirkan Kelezatan Pedas Pacitan

badge-check


 Katiyem, Wanita Perajin Kalakan: Kisah Sukses Memelihara Tradisi dan Menghadirkan Kelezatan Pedas Pacitan Perbesar

PACITAN – KALAKAN, makanan khas yang satu ini mungkin belum begitu familiar di telinga banyak orang. Namun, bagi warga Kabupaten Pacitan, Kalakan merupakan sajian yang tak bisa dilewatkan. Kalakan merupakan olahan ikan pari yang disajikan seperti sate, namun dengan rasa yang super pedas dan menggugah selera.

Salah satu pengolah Kalakan yang terkenal di Pacitan adalah Katiyem, seorang wanita berusia 60 tahun dari Dusun Suruhan, Desa Sirnoboyo. Katiyem telah puluhan tahun mengolah Kalakan dan menjadikannya warisan turun temurun. 

“Ini adalah usaha turun temurun, saya meneruskan usaha orang tua dulu,”katanya Senin, (13/5/2024). 

Meski asap putih dari pembakaran ikan pari di ruang dapurnya membuat matanya pedih, namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya.

Diruang berukuran 2 meter kali 2 meter di atas dapur rumahnya, Katiyem menjadikan tempat pengasapan Kalakan. Proses pembuatan Kalakan dimulai dengan memotong ikan pari menjadi segi empat dan mencucinya bersih. Selanjutnya, dengan ciri khasnya, Katiyem menyunduk lidi pada daging ikan sebelum proses pengasapan dimulai.

Nenek 60 tahun itu terus membakar potongan ikan pari yang telah disundul lidi di atas tungku api. Kayu yang dipilihnya bukan kayu keras, melainkan kayu sengon yang mengeluarkan asap tebal ketika dibakar. Meski terkadang ia harus mengusap matanya karena tak kuat merasakan pedih, namun Katiyem tetap fokus membalik daging ikan agar tidak gosong.

Setelah proses pengasapan selesai, Katiyem melanjutkan dengan membungkus ikan menggunakan daun pisang. Satu bungkus Kalakan berisi 10 sunduk dan dijual dengan harga 10 ribu rupiah per bungkusnya. Menurut Katiyem, bungkusnya menggunakan daun pisang agar rasanya lebih alami.

Setiap pagi, Katiyem membawa Kalakan ke Pasar Minulyo Baleharjo Pacitan. Dalam hitungan jam, sekitar 50 hingga 60 bungkus Kalakan habis terjual. Dengan begitu, Katiyem bisa meraup penghasilan sekitar 500 hingga 600 ribu rupiah per hari. “Biasanya berangkat jam empat, dan jam 6 sudah habis,, jelasnya lagi.

Rutinitas ini dilakukan Katiyem setiap hari, hanya berhenti ketika stok ikan habis di dalam ruang penyimpanannya. “Kalau stok ikan masih, ya setiap hari produksi,” ujarnya. 

Dengan keunikan rasanya dan kisah perjuangan Katiyem, Kalakan menjadi salah satu kuliner yang patut dicoba jika Anda berkunjung ke Kabupaten Pacitan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Baru Satu SPPG di Pacitan Kantongi KKPR, Puluhan Dapur MBG Sudah Beroperasi

29 Juni 2026 - 18:56 WIB

Harga Telur di Pacitan Anjlok, Peternak Lokal Kelimpungan Dihantam Pasokan dari Luar Daerah

29 Juni 2026 - 18:49 WIB

Berawal dari 170 Baglog, Pasutri di Wonoanti Pacitan Kini Kelola 25 Ribu Baglog Jamur Tiram

26 Juni 2026 - 19:40 WIB

Dua SPPG di Pacitan Masih Disuspend, Tunggu Verifikasi Pusat

26 Juni 2026 - 19:38 WIB

Polisi Amankan Antrean LPG 3 Kg di Pacitan, Antisipasi Rebutan Gas Melon

17 Maret 2026 - 14:18 WIB

Trending di Ekonomi