SUDIMORO – lensapacitan.com, Petani cengkeh di Pacitan dibuat pusing, Selain ancaman pohon mati terserang virus, harga bunga dari pohon yang tersisa justru anjlok dipasaran. Tak tanggung-tanggung, dari bunga kering yang biasa dijual Rp. 90 hingga 100 ribu perkilo, kini hanya dihargai Rp. 60 ribu perkilonya. Padahal jumlah panen para petani menyusut usai sebagian besar batang cengkeh mati. ‘’Menangis, miris pokoknya para petani cengkeh saat ini,’’ ujar Sumono, petani cengkeh di Sudimoro,
Menurutnya, penurunan produktifitas para petani merosot tajam. Berkisar 70 persen dari panen raya tahun-tahun sebelumnya. Di waktu normal misalnya, satu batang cengkeh mampu memproduksi 50 hingga 60 kg bunga basah. Pun, usai dikeringkan bakal menyusut hingga 20 kg saja. Sementara, saat ini para petani hanya mampu memproduksi 20 kg tiap batang. Pun, saat dikeringkan hanya berkisar 4 hingga 6 kg cengkeh kering. ‘
Faktor musim, dituding jadi biang keladi merosotnya panen. Pasalnya dimusim kemarau kali ini sebagian besar sumur warga mengering. Diperparah dengan matinya batang cengkeh terserang virus. Alhasil, sebagian petani yang frustasi memilih menebang pohon untuk dijual kayunya. Lumprah mengingat anjloknya pendapatan jika dibandingkan masa jaya cengkeh beberapa tahun silam. ‘’kalau dulu hasil cengkeh bisa untuk sekolahkan anak hingga kuliah, mungkin sekarang sulit,’’ ungkap Sumono.
Ketanggung, Karangmulyo, Klepu dan sebagian Sudimoro jadi sebagian besar produksi cengkeh di kecamatan Sudimoro. Padahal dari wilayah tersebut belasan ton diproduksi tiap tahun. Namun, Sumono ragu dalam beberapa tahun kedepan tanaman cengkeh masih bertahan di wilayahnya. Mengingat, banyaknya tanaman yang mati tiap tahun. ‘’Mungkin kalau yang hanya mengandalkan cengkeh sebagai penghasilan utama akan kesusahan,’’ pungkasnya. (Not)