LENSA PACITAN – Menjelang Lebaran, warga di Kabupaten Pacitan mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan LPG subsidi ukuran 3 kilogram. Sejak Senin (9/3/2026), stok gas melon di sejumlah pangkalan dilaporkan kosong.
Salah satu warga Desa Bangunsari, Kecamatan Pacitan, Silvy, mengaku harus berkeliling ke beberapa pangkalan untuk mencari LPG 3 kilogram. Namun upayanya tidak membuahkan hasil.
“Mulai kemarin muter-muter wilayah Pacitan tidak dapat, kosong semua,” ujarnya.
Kelangkaan ini membuat masyarakat khawatir. Pasalnya, LPG subsidi menjadi kebutuhan utama rumah tangga maupun pelaku usaha kecil, terlebih menjelang Hari Raya Idul Fitri yang tinggal sekitar 10 hari lagi.
Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Kecamatan Tulakan. Ditingkat pengecer, LPG 3 kilogram tidak hanya sulit didapat, tetapi harganya juga mulai merangkak naik, berkisar antara Rp22 ribu hingga Rp25 ribu per tabung.
Menanggapi keluhan tersebut, Ketua Hiswana Migas Madiun, Agus Wiyono, memastikan bahwa pasokan LPG subsidi untuk wilayah Pacitan sebenarnya tidak mengalami pengurangan. Namun pihaknya akan menelusuri distribusi di tingkat pangkalan, khususnya di Desa Bangunsari.
“Sejauh ini suplai tidak ada pengurangan. Kami akan cek siapa pangkalan yang ada di wilayah Desa Bangunsari,” katanya.
Menurut Agus, di Desa Bangunsari terdapat sekitar 12 pangkalan LPG yang seharusnya mampu mencukupi kebutuhan masyarakat setempat. Secara kuota, pasokan LPG subsidi dinilai masih aman.
Meski demikian, pengawasan penjualan di tingkat pangkalan diakui masih menjadi tantangan, meskipun saat ini sudah menggunakan sistem Merchant Apps Pertamina (MAP).
“Insya Allah untuk kecukupan kebutuhan masyarakat cukup. Cuma harus diakui kontrol penjualan pangkalan ini yang agak sulit, meskipun sudah pakai MAP,” jelasnya.
Ia menjelaskan, sistem dalam aplikasi tersebut menggunakan basis Nomor Induk Kependudukan (NIK). Namun sistem itu belum membatasi pembelian berdasarkan domisili desa, sehingga LPG subsidi masih bisa dibeli oleh warga dari luar wilayah.
Karena itu, pihaknya meminta pangkalan memprioritaskan warga sekitar dan pelaku usaha mikro agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
“Di saat seperti ini mohon pangkalan memprioritaskan melayani lingkungan RT dan pelaku UKM setempat,” ujarnya.
Agus juga mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait kondisi tersebut. Menurutnya, sinergi antara penyalur, Pertamina, dan pemerintah daerah diperlukan agar distribusi LPG subsidi di lapangan tetap terkendali dan tidak memicu kepanikan masyarakat.
“Kami khawatir kalau berita seperti ini muncul dan tidak segera ditindaklanjuti, masyarakat bisa panik,” katanya.
Ia menegaskan, dari sisi pasokan pusat tidak ada pengurangan maupun keterlambatan distribusi LPG. Jika pun terjadi keterlambatan, biasanya hanya dipengaruhi faktor alam seperti hujan deras atau longsor yang menghambat jalur pengiriman.
“Kalau pun ada keterlambatan biasanya hanya soal waktu pengiriman saja, misalnya yang seharusnya siang jadi malam,” pungkasnya. (Not)





















