Menu

Mode Gelap
AHY Gaungkan Gerakan Langit Biru Indonesia Asri, Kepala Bappilu Demokrat: Lingkungan Bersih adalah Magnet Investasi Baru Satu SPPG di Pacitan Kantongi KKPR, Puluhan Dapur MBG Sudah Beroperasi BPBD Pacitan Minta Donatur dan Relawan Koordinasi Sebelum Droping Air Bersih Harga Telur di Pacitan Anjlok, Peternak Lokal Kelimpungan Dihantam Pasokan dari Luar Daerah Air Telaga Kembeng Surut, Warga Ketro, Pacitan Berburu Ikan Nila Berawal dari 170 Baglog, Pasutri di Wonoanti Pacitan Kini Kelola 25 Ribu Baglog Jamur Tiram

Ekonomi

Kasemi, Perajin Kasur Kapuk Yang Bertahan ditengah Gempuran Produk Modern

badge-check

 

KEBONAGUNG, 
lensapacitan.com – Dibelakang meja mesin jahitnya, Kasemi 68 tahun,
warga Desa Wonogondo, Kecamatan Kebonagung ini sibuk menjahit kain kasur.  Kain tersebut digunakan untuk wadah gulungan
kapuk kering dari buah pohon randu.

Wanita kelahiran 1954 ini 
masih bertahan menjalankan usaha membuat kasur dari kapuk randu. Padahal
saat era modern  sudah banyak warga
meninggalkan kasur kapuk randu dan beralih ke spons maupun springbed.

Kasemi mengaku mulai menekuni usaha ini sejak 29 tahun
silam. Waktu muda dirinya mengikuti kursus menjahit. Bukan menjahit baju atau busana,
melainkan berlatih membuat kasur, guling hingga bantal.

“saya dulu kursus menjahit, setelah lulus kemudian mencoba
membuat usaha sendiri,” jelasnya saat ditemui dirumahnya (20/8/2022).

Tak hanya tergerus jaman, kendala yang dihadapinya adalah
minimnya stok kapuk randu yang ada di pasaran, sehingga harus mencari atau
memesan kepada petani yang memiliki pohon randu.  Jika musim panen, ibu lima anak ini memilih
membeli bahan sebanyak-banyaknya.

“kalau pas pesanan banyak, kadang kehabisan bahan baku, jadi
kalau pas musim panen, saya stok banyak,” katanya.

Harga kapuk yang belum diolah ia beli seharga  Rp7000 rupiah perkilogramnya. Bahan kapuk itu
kemudian dibersihkan dan dikeringkan hingga siap dimasukkan kedalam sarung
kasur, bantau maupun guling.

Untuk membuat kain kasurnya pun tahapannya cukup rumit.
Yakni dari kain, lalu dicuki atau dijahit untuk mengatur ketebalan dan
tonjolan-tonjolannya sehingga nyaman untuk dipakai. Setelah proses menyuki
selesai, lalu diisi kapuk randu.

Harga jual kapuk tergantung ukuran, mulai dari Rp 250 ribu
rupiah hingga Rp 500 ribu rupiah. Sedangkan untuk penjualannya, kasemi tak
kesulitan, lantaran pelanggan  dating langsung
untuk membeli kasur buatannya. Bahkan dia kuwalahan memenuhi permintaan
pembeli. Tak hanya membuat kasur, kasemi juga melayani perbaikan kasur lama. (PKL/
Catarina Gayatri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Baru Satu SPPG di Pacitan Kantongi KKPR, Puluhan Dapur MBG Sudah Beroperasi

29 Juni 2026 - 18:56 WIB

Harga Telur di Pacitan Anjlok, Peternak Lokal Kelimpungan Dihantam Pasokan dari Luar Daerah

29 Juni 2026 - 18:49 WIB

Berawal dari 170 Baglog, Pasutri di Wonoanti Pacitan Kini Kelola 25 Ribu Baglog Jamur Tiram

26 Juni 2026 - 19:40 WIB

Dua SPPG di Pacitan Masih Disuspend, Tunggu Verifikasi Pusat

26 Juni 2026 - 19:38 WIB

Peringati Hari Bumi 2026, Warga Kiteran Tanam Ratusan Pohon Demi Selamatkan Sumber Air

22 April 2026 - 20:57 WIB

Trending di Feature