Menu

Mode Gelap
Baru Satu SPPG di Pacitan Kantongi KKPR, Puluhan Dapur MBG Sudah Beroperasi BPBD Pacitan Minta Donatur dan Relawan Koordinasi Sebelum Droping Air Bersih Harga Telur di Pacitan Anjlok, Peternak Lokal Kelimpungan Dihantam Pasokan dari Luar Daerah Air Telaga Kembeng Surut, Warga Ketro, Pacitan Berburu Ikan Nila Berawal dari 170 Baglog, Pasutri di Wonoanti Pacitan Kini Kelola 25 Ribu Baglog Jamur Tiram Dua SPPG di Pacitan Masih Disuspend, Tunggu Verifikasi Pusat

Ekonomi

Tempe Buntel Daun, Kekhasan Kuliner Desa Sembowo Kecamatan Sudimoro

badge-check


 Wati Menunjukkan Tempe Buatannya saat Bazar Kentong Aji Beberapa Waktu Lalu (foto: Trinoto - Lensa Pacitan) Perbesar

Wati Menunjukkan Tempe Buatannya saat Bazar Kentong Aji Beberapa Waktu Lalu (foto: Trinoto - Lensa Pacitan)

Sudimoro – lensapacitan.com, Desa Sembowo, Kecamatan Sudimoro, Pacitan, dikenal memiliki produk kuliner khas berupa tempe yang dibungkus dengan daun jati dan daun pisang. Tempe buntel daun ini menawarkan cita rasa unik yang tidak ditemukan pada tempe umumnya. Aroma khas dari daun jati dan daun pisang memberikan sensasi berbeda yang menggugah selera.

Produk khas ini banyak dijual di pasar tradisional sekitar desa. Menariknya, pola produksi tempe di Desa Sembowo cukup bervariasi. Beberapa warga memproduksi tempe setiap hari, sementara lainnya hanya membuatnya menjelang hari pasaran, sesuai tradisi lokal.

Keunikan tempe asal Sembowo terletak pada pembungkusnya yang selalu menggunakan daun, baik daun jati maupun daun pisang. Tidak seperti kebanyakan tempe di pasar yang sering menggunakan plastik atau gedebok, tempe ini tetap mempertahankan tradisi ramah lingkungan.

Menurut Wati (39), salah satu produsen tempe di desa tersebut, setiap harinya ia membutuhkan bahan baku antara 5 hingga 20 kilogram kedelai untuk memenuhi permintaan pelanggan.

“Proses pembuatannya sebenarnya sama seperti tempe pada umumnya. Bedanya, kami hanya menggunakan daun sebagai pembungkusnya. Ini yang membuat rasa dan aromanya lebih khas,” ujar Wati.

Tempe buntel daun ini menjadi produk yang dinantikan masyarakat, terutama saat hari pasaran. Permintaan yang cukup tinggi membuat para produsen terus menjaga kualitas dan rasa tradisionalnya. Selain menjaga tradisi, inovasi pembungkus alami ini juga menjadi langkah kecil dalam mendukung gaya hidup yang ramah lingkungan.(not)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Baru Satu SPPG di Pacitan Kantongi KKPR, Puluhan Dapur MBG Sudah Beroperasi

29 Juni 2026 - 18:56 WIB

Harga Telur di Pacitan Anjlok, Peternak Lokal Kelimpungan Dihantam Pasokan dari Luar Daerah

29 Juni 2026 - 18:49 WIB

Berawal dari 170 Baglog, Pasutri di Wonoanti Pacitan Kini Kelola 25 Ribu Baglog Jamur Tiram

26 Juni 2026 - 19:40 WIB

Dua SPPG di Pacitan Masih Disuspend, Tunggu Verifikasi Pusat

26 Juni 2026 - 19:38 WIB

Polisi Amankan Antrean LPG 3 Kg di Pacitan, Antisipasi Rebutan Gas Melon

17 Maret 2026 - 14:18 WIB

Trending di Ekonomi