Menu

Mode Gelap
Polres Pacitan Tahan Tarman, Terduga Pemalsu Cek Mahar Rp3 Miliar: Kasus Bermula dari Laporan Model A Ketidakakuratan Data DTSEN Picu Keluhan Bansos di Pacitan, Pendamping PKH: “Kunci Perbaikan Ada di Desa” Sheila Tetap Setia Dampingi Mbah Tarman Meski Suami Resmi Ditahan dalam Kasus Cek Rp3 Miliar Cek Rp3 Miliar Diduga Palsu, Kakek Tarman Resmi Ditahan Polres Pacitan APEDNAS Jatim Semprot Pemdes Pacitan: 45 Desa Kehilangan Dana Desa Rp10 Miliar Lebih Didapati di Perempatan Cuik, Pria “Tersesat” Berpindah-Pindah Kota Diduga Gunakan Modus Baru

Ekonomi

Rontek Tegalombo Usung Tema “Murwokolo”, Pukau Penonton dengan Nuansa Islami

badge-check


 Rontek Tegalombo Usung Tema “Murwokolo”, Pukau Penonton dengan Nuansa Islami Perbesar

Pacitan – Dengan berpakaian serba putih, dan diiringi syair musik islami, Atraksi Rontek dari Kecamatan Tegalombo tampil beda di hari kedua Festival Ronthek Pacitan 2025, Minggu malam (6/7/2025).

Dengan alunan syair musik Islami yang berpadu harmonis dengan irama khas musik rontek, membius ribuan penonton yang memadati venue utama di depan Pendopo Kabupaten Pacitan. Suasana syahdu menyelimuti area pertunjukan, tak terkecuali tamu undangan yang ikut larut dalam alur cerita yang disuguhkan.

Mengusung tema “Murwokolo”, kelompok seni Tegalombo menyampaikan pesan mendalam tentang tradisi bersih desa yang identik dengan bulan Suro.

“Murwokolo itu artinya membersihkan hal-hal kotor atau negatif. Karena ini juga momen bersih desa dan bulan Suro, jadi sangat pas,” ujar Camat Tegalombo, Edi Wasono, Ditulis Senin (7/7/2025).

Ia menjelaskan, konsep yang dibawakan merupakan hasil kolaborasi warga dan pelajar dari Desa Gemaharjo. Kolaborasi antar generasi ini memberi warna baru dalam pagelaran tahun ini.

Berlatih selama tiga minggu, tim Tegalombo harus berjibaku dengan waktu dan keterbatasan sumber daya manusia yang berlatar seni. “Tiap tahun kami mulai dari nol. Pemain berganti, dan mencari yang benar-benar punya jiwa seni tidak mudah. Tapi kami tetap semangat,” tutur Edi.

Ciri khas pertunjukan Tegalombo adalah properti utama berupa replika gunung, yang menjadi simbol geografis sekaligus representasi dari tantangan hidup masyarakat di kawasan pegunungan.

“Kami gambarkan gunung karena memang Tegalombo itu pegunungan, dengan sengkala dan kesulitan masing-masing. Tapi kami juga menunjukkan semangat membersihkan semua itu,” kata Kepala Desa Gemaharjo Harmanto.

Dia berharap, tema dan semangat Murwokolo tak hanya menjadi tontonan menarik, tetapi juga memperkuat pelestarian tradisi bersih desa sebagai identitas budaya yang terus hidup dan berkembang.

Festival Ronthek Pacitan 2025 berlangsung selama tiga hari di kawasan alun-alun Pacitan dan diikuti oleh perwakilan kecamatan serta sekolah kejuruan. Ronthek tahun ini mengusung tajuk besar “Pacitan Sumandhang Nugraha”, dan menjadi salah satu agenda unggulan pariwisata budaya Kabupaten Pacitan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Harga Cabai di Pacitan Melejit Dua Kali Lipat, Pedagang dan Warga Menjerit

3 Desember 2025 - 19:31 WIB

25 Ribu Warga Pacitan Dicoret dari BLTS Kesra, Verifikasi Dilakukan di Tingkat Desa

30 November 2025 - 15:14 WIB

Program MBG Buka Lapangan Kerja, Warga Pacitan Kini Punya Pekerjaan Tetap

27 November 2025 - 21:23 WIB

Keluhan Nelayan Dipenuhi, Pengerukan Sedimentasi di Pelabuhan Tamperan Resmi Dimulai

24 November 2025 - 19:48 WIB

Harga Kebutuhan Pokok di Pacitan Merangkak Naik, Pedagang Pasar Minulyo Keluhkan Stok Menipis

21 November 2025 - 19:33 WIB

Trending di Ekonomi