Menu

Mode Gelap
Diduga Ngantuk, Avanza Tabrak Motor lalu Terjun ke Sungai di Arjosari Adik Tewas Kecelakaan Karena dikejar Polisi, Akad Nikah di Ruang Jenazah RSUD Pacitan. Polisi Jadi Korban, Pemuda 22 Tahun Tersangka Bentrok Rontek Gugah Sahur di Pacitan Dikejar Polisi, Pemuda Asal Brebes Tewas Kecelakaan di Pacitan Polisi Amankan Antrean LPG 3 Kg di Pacitan, Antisipasi Rebutan Gas Melon Kelangkaan LPG 3 Kg di Pacitan Berlanjut, Antrean Panjang Mengular di Pangkalan

Ekonomi

Sentra Genteng dan Batu Bata Desa Ploso, Penopang Ekonomi Warga

badge-check


 Sentra Genteng dan Batu Bata Desa Ploso, Penopang Ekonomi Warga Perbesar

Punung – lensapacitan.com, Desa Ploso, Kecamatan Punung, Pacitan, dikenal sebagai pusat industri genteng dan batu bata berkualitas. Di sana terdapat ratusan perajin yang mempekerjakan ribuan orang. Salah satu produk khasnya adalah genteng Mantili yang diminati masyarakat.

Agus Marianto, 37 tahun, salah satu pengrajin di Desa Ploso, mampu memproduksi 250 hingga 300 genteng per hari, mulai dari proses penggilingan hingga pencetakan. “Sekali produksi sekitar 250 genteng,” ujarnya, Kamis(31/10/2024).

Baca Juga: Potensi Kakao Desa Wonoanti, Mampu Produksi Dua Ton Dalam Sebulan

Untuk mencapai jumlah tersebut, Agus dibantu dua karyawan yang mengurus bagian penggilingan dan pencetakan. Proses produksi hingga produk jadi membutuhkan waktu antara 4 hingga 15 hari, tergantung cuaca.

“Jika musim kemarau, hanya butuh 4 hari untuk siap dibakar, namun saat musim hujan membutuhkan waktu sekitar 15 hari,” jelasnya.

Selain genteng, warga Desa Ploso di tiga dusun, yaitu Dusun Ploso, Pacing, Duwet, dan Bubakan, juga memproduksi batu bata. Jumlah pengrajin di sana mencapai sekitar 160 orang. Menurut Dwi Putra Widiatmoko, warga setempat, bahan dasar yang digunakan adalah tanah liat sawah.

“Tanah yang berkualitas digunakan untuk genteng, sedangkan yang kurang bagus untuk batu bata,” terangnya.

Baca Juga: Potensi Ekonomi Janggelan di Kecamatan Bandar Pacitan Meningkat Tajam

Harga genteng bervariasi, berkisar antara Rp2.000 hingga Rp2.200 per unit, tergantung bentuknya. Produk ini tidak hanya diminati warga lokal, tetapi juga disuplai ke beberapa kecamatan, seperti Pringkuku, Donorojo, Pacitan, dan Tulakan. Bahkan, genteng dari Desa Ploso menarik minat pelanggan dari kabupaten tetangga.

Kepala Desa Ploso, Agus Cahyono, mengungkapkan bahwa industri genteng dan batu bata telah berkontribusi besar terhadap stabilitas ekonomi warga setempat.

“Dampak ekonominya luar biasa, ratusan pengrajin di sini ekonominya mapan,” ujarnya. Banyak warga yang mampu menyekolahkan anak mereka hingga ke perguruan tinggi berkat usaha ini.

Para pengrajin pun terus berinovasi dengan membuat desain genteng yang lebih modern tanpa menghilangkan ciri khasnya. Kini, mereka mulai mempromosikan dan memasarkan produk melalui marketplace, menyadari pentingnya bersaing dengan daerah lain yang juga meningkatkan kualitas produk genteng dan batu bata.(not)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Polisi Amankan Antrean LPG 3 Kg di Pacitan, Antisipasi Rebutan Gas Melon

17 Maret 2026 - 14:18 WIB

Kelangkaan LPG 3 Kg di Pacitan Berlanjut, Antrean Panjang Mengular di Pangkalan

17 Maret 2026 - 13:47 WIB

Harga LPG 3 Kg Melebihi HET, Pemkab Pacitan Tak Berani Intervensi

17 Maret 2026 - 13:20 WIB

20.121 Penerima Bansos Desil 5 Terancam Dihapus, Skema PKH-BPNT 2026 Berubah

29 Januari 2026 - 21:48 WIB

Menjelang Nataru Dan Dampak MBG Harga Telur di Pacitan Meroket Hingga Rp30 Ribu per Kilogram 

11 Desember 2025 - 14:38 WIB

Trending di Ekonomi