Menu

Mode Gelap
AHY Gaungkan Gerakan Langit Biru Indonesia Asri, Kepala Bappilu Demokrat: Lingkungan Bersih adalah Magnet Investasi Baru Satu SPPG di Pacitan Kantongi KKPR, Puluhan Dapur MBG Sudah Beroperasi BPBD Pacitan Minta Donatur dan Relawan Koordinasi Sebelum Droping Air Bersih Harga Telur di Pacitan Anjlok, Peternak Lokal Kelimpungan Dihantam Pasokan dari Luar Daerah Air Telaga Kembeng Surut, Warga Ketro, Pacitan Berburu Ikan Nila Berawal dari 170 Baglog, Pasutri di Wonoanti Pacitan Kini Kelola 25 Ribu Baglog Jamur Tiram

Ekonomi

Pembuatan Tungku Batu di Dusun Batu Lapak Tetap Diminati Meski Ada Kompor Gas

badge-check


 Pembuatan Tungku Batu di Dusun Batu Lapak Tetap Diminati Meski Ada Kompor Gas Perbesar

Pacitan – Di lereng Dusun Batu Lapak, Desa Kalipelus, Kecamatan Kebonagung, aktivitas penggalian batu besar untuk dijadikan tungku kayu bakar masih berjalan seperti biasa. Tumidi (55) dan anaknya, Edi Sutikno, telah menjalani pekerjaan ini selama lebih dari lima tahun, meski kini banyak orang beralih menggunakan kompor gas dan listrik.

Setiap harinya, mereka menggarap batu persegi panjang dengan panjang sekitar 1,5 meter, lebar 50 sentimeter, dan tinggi 40 sentimeter. Batu yang keras itu dibentuk menggunakan cangkul khusus, paji besi, dan alat pukul manual. “Satu tungku bisa selesai dalam sehari,” ujar Tumidi pada Senin (17/9/2024).

Meski alat-alat modern semakin berkembang, tungku batu buatan Tumidi masih banyak diminati. Saat ini, ia tengah menyelesaikan pesanan dari Kecamatan Tulakan sebanyak 10 tungku. “Pesanan dulu belum selesai, sudah ada dua orang lain yang pesan lagi, masing-masing di atas lima tungku,” jelasnya.

Baca Juga: Rintis Usaha Ternak Kelinci, Satpam Asal Pacitan Ini Raup Jutaan per Bulan

Setelah batu dibentuk, proses penghalusan dilakukan dengan pasah kayu yang didesain khusus. Harga tungku bervariasi tergantung ukuran. Untuk tungku satu lubang dijual seharga Rp50.000, dua lubang Rp80.000, dan yang terbesar dihargai Rp120.000.

Pekerjaan ini, meski berat, memberikan penghasilan yang cukup bagi Tumidi dan keluarganya. “Kalau cuaca bagus dan badan sehat, saya bisa membuat tungku setiap hari,” pungkasnya.

Dengan menggunakan teknik tradisional dan keterampilan yang diwariskan turun-temurun, Tumidi tetap bertahan di tengah tantangan modernisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Baru Satu SPPG di Pacitan Kantongi KKPR, Puluhan Dapur MBG Sudah Beroperasi

29 Juni 2026 - 18:56 WIB

Harga Telur di Pacitan Anjlok, Peternak Lokal Kelimpungan Dihantam Pasokan dari Luar Daerah

29 Juni 2026 - 18:49 WIB

Berawal dari 170 Baglog, Pasutri di Wonoanti Pacitan Kini Kelola 25 Ribu Baglog Jamur Tiram

26 Juni 2026 - 19:40 WIB

Dua SPPG di Pacitan Masih Disuspend, Tunggu Verifikasi Pusat

26 Juni 2026 - 19:38 WIB

Polisi Amankan Antrean LPG 3 Kg di Pacitan, Antisipasi Rebutan Gas Melon

17 Maret 2026 - 14:18 WIB

Trending di Ekonomi