PACITAN – Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, tak hanya dikenal sebagai lokasi persembunyian Jenderal Soedirman saat bergerilya. Kawasan berhawa sejuk ini juga menyimpan potensi besar dari lereng-lereng perbukitannya: biji kopi robusta yang kini dikenal dengan nama Kopi Nawangan.
Ditanam sejak masa kolonial Belanda, kopi robusta dari Nawangan memiliki cita rasa khas dengan karakter kuat dan kadar kafein relatif rendah. Tumbuh di ketinggian 1.225 meter di atas permukaan laut, kopi ini berkembang menjadi salah satu komoditas unggulan yang turut menggerakkan roda perekonomian warga setempat.
Tak hanya sebagai produk pertanian, Nawangan kini mulai dikenal sebagai destinasi agrowisata petik kopi, terutama di sekitar kawasan Monumen Jenderal Soedirman. Wisatawan dapat memetik langsung buah kopi merah dari pohonnya sembari menikmati udara pegunungan yang sejuk.
Camat Nawangan, Sukarwan, menyambut baik geliat agrowisata ini. Menurutnya, pengembangan Kopi Nawangan bukan sekadar untuk meningkatkan produksi, tetapi juga membuka peluang baru di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Kopi Nawangan ini bukan hanya soal rasa, tapi juga bagian dari identitas kami. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan Monumen Jenderal Soedirman bisa menjadi destinasi agrowisata petik kopi unggulan,” ujar Sukarwan, Rabu (30/7/2025).
Ia menjelaskan, pihak kecamatan aktif mendampingi kelompok tani agar menjaga kualitas produksi, sekaligus memberikan pelatihan pascapanen dan pemasaran.
“Kita bantu dari hulu ke hilir, mulai dari perawatan tanaman, proses pengolahan, hingga promosi. Bahkan, sudah ada petani yang memasarkan produknya lewat media sosial,” tambahnya.
Para petani juga mulai berinovasi. Tak lagi sekadar menjual biji mentah, mereka mengolah hasil panen menjadi bubuk kopi kemasan dan menyajikannya langsung di warung-warung kopi lokal. Sebagian mulai belajar teknik roasting agar kualitas dan nilai jualnya semakin meningkat.
Pemasaran Kopi Nawangan sejauh ini masih bersifat tradisional, namun perlahan mulai merambah pasar digital melalui berbagai platform daring. Meski kapasitas produksi belum besar, minat terhadap kopi lokal terus meningkat.
“Kalau ini dibranding dengan baik dan terus dikembangkan, saya yakin Kopi Nawangan bisa bersaing di tingkat nasional. Apalagi, wisata petik kopi punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” pungkas Sukarwan.
















