Pacitan – Di tepian Sungai Kalisat yang mengalir di Desa Pagutan, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, wajah-wajah sumringah tampak di antara warga Dusun Karang dan Dusun Pule. Senyum itu bukan tanpa alasan. Sebuah jembatan gantung yang telah lama mereka impikan akhirnya berdiri kokoh, menghubungkan kehidupan yang selama puluhan tahun terpisah oleh derasnya arus sungai.
Bagi Mbah Diso, jembatan ini bukan sekadar sarana penyeberangan. Ia adalah simbol harapan yang akhirnya menjadi kenyataan setelah menunggu lebih dari empat dekade.
“Sudah sekitar 50 tahun saya tinggal di sini. Dulu kami harus menyeberangi Sungai Kalisat kalau mau ke pasar atau ke dusun sebelah,” kenangnya saat ditemui lensapacitan Jum’at (6/2/2026).
Sebelum jembatan gantung dibangun, warga hanya mengandalkan jembatan darurat dari bambu dan papan kayu. Jembatan sederhana itu dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada tahun 2002. Namun, kekuatannya tak pernah bertahan lama.
Setiap tahun bambu harus diganti karena lapuk dimakan usia. Belum lagi jika musim hujan datang dan banjir sungai mengamuk. Arus deras kerap menghanyutkan jembatan yang susah payah mereka bangun.
Kepala Dusun Karang, Sardi, mengingat betul bagaimana jembatan darurat itu pernah hilang diterjang banjir besar pada tahun 2017.
“Waktu itu jembatannya lenyap disapu banjir. Kami lalu membangun lagi dengan bambu yang lebih besar dan papan kayu supaya lebih kuat. Bahkan sempat bisa dilewati sepeda motor. Tapi tetap saja tiap tahun rusak,” ujarnya.
Selama hampir sepuluh tahun, berbagai proposal pembangunan jembatan diajukan ke pemerintah desa hingga instansi di atasnya. Namun harapan itu selalu tertunda.
“Hampir setiap tahun kami mengajukan proposal. Ke desa, ke instansi di atasnya, bahkan ke dewan. Tapi belum ada yang terealisasi. Baru lewat program Pak Prabowo ini akhirnya bisa terwujud,” kata Sardi.
Harapan yang lama dipendam itu akhirnya terjawab melalui program Ekspedisi 1000 Jembatan Gantung untuk Indonesia yang melibatkan TNI bersama masyarakat.
Kini, jembatan gantung sepanjang 25 meter dengan lebar 1,4 meter berdiri kokoh melintasi Sungai Kalisat. Lantai jembatan yang kuat dilengkapi kawat pelindung di sisi kanan dan kiri, memberikan rasa aman bagi warga yang melintas.
Bukan hanya pejalan kaki, kendaraan roda dua pun kini dapat melintasinya dengan nyaman.
Bagi warga Dusun Karang dan sebagian warga RT di Dusun Pule, jembatan ini menjadi urat nadi baru kehidupan mereka. Ladang yang selama ini sulit dijangkau kini lebih mudah diakses.
“Nanti hasil pertanian dari ladang bisa dibawa ke pasar dengan mudah,” kata Sardi.
Komandan Kodim 0801 Pacitan, Letkol Ckm Imam Musahirul, berharap jembatan gantung tersebut mampu membuka akses yang lebih baik bagi masyarakat.
“Semoga dengan adanya jembatan ini mobilitas warga semakin lancar dan perekonomian masyarakat bisa meningkat,” ujarnya.
Bagi Mbah Diso dan warga lainnya, jembatan ini bukan hanya rangkaian besi dan kabel baja. Ia adalah penghubung harapan yang selama puluhan tahun akhirnya menemukan jalannya di atas aliran Anak Sungai Grindulu Pacitan. (not)





















