Menu

Mode Gelap
OPEN SUBMIT! Lomba Bercerita “Untuk Bumi Kita” Tingkat Nasional Resmi Dibuka Modern Bridal Make Up Jadi Panggung Unjuk Skill Lulusan TKKR SMKN 1 Pacitan Simulasi Laka Air Warnai Peringatan HKB 2026 di Watu Mejo Mangrove Park Pacitan Peringati Hari Bumi, Sekolah Alam Pacitan Tanam 6.600 Mangrove di Watu Mejo Peringati Hari Bumi 2026, Warga Kiteran Tanam Ratusan Pohon Demi Selamatkan Sumber Air Pelaku Percobaan Pencurian di Arjosari Pukul Korban, Kabur ke Perbukitan

Ekonomi

Dari Lereng Nawangan, Kopi Robusta Jadi Ikon Agrowisata Pacitan

badge-check


 Dari Lereng Nawangan, Kopi Robusta Jadi Ikon Agrowisata Pacitan Perbesar

PACITAN – Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, tak hanya dikenal sebagai lokasi persembunyian Jenderal Soedirman saat bergerilya. Kawasan berhawa sejuk ini juga menyimpan potensi besar dari lereng-lereng perbukitannya: biji kopi robusta yang kini dikenal dengan nama Kopi Nawangan.

Ditanam sejak masa kolonial Belanda, kopi robusta dari Nawangan memiliki cita rasa khas dengan karakter kuat dan kadar kafein relatif rendah. Tumbuh di ketinggian 1.225 meter di atas permukaan laut, kopi ini berkembang menjadi salah satu komoditas unggulan yang turut menggerakkan roda perekonomian warga setempat.

Tak hanya sebagai produk pertanian, Nawangan kini mulai dikenal sebagai destinasi agrowisata petik kopi, terutama di sekitar kawasan Monumen Jenderal Soedirman. Wisatawan dapat memetik langsung buah kopi merah dari pohonnya sembari menikmati udara pegunungan yang sejuk.

Camat Nawangan, Sukarwan, menyambut baik geliat agrowisata ini. Menurutnya, pengembangan Kopi Nawangan bukan sekadar untuk meningkatkan produksi, tetapi juga membuka peluang baru di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Kopi Nawangan ini bukan hanya soal rasa, tapi juga bagian dari identitas kami. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan Monumen Jenderal Soedirman bisa menjadi destinasi agrowisata petik kopi unggulan,” ujar Sukarwan, Rabu (30/7/2025).

Ia menjelaskan, pihak kecamatan aktif mendampingi kelompok tani agar menjaga kualitas produksi, sekaligus memberikan pelatihan pascapanen dan pemasaran.

“Kita bantu dari hulu ke hilir, mulai dari perawatan tanaman, proses pengolahan, hingga promosi. Bahkan, sudah ada petani yang memasarkan produknya lewat media sosial,” tambahnya.

Para petani juga mulai berinovasi. Tak lagi sekadar menjual biji mentah, mereka mengolah hasil panen menjadi bubuk kopi kemasan dan menyajikannya langsung di warung-warung kopi lokal. Sebagian mulai belajar teknik roasting agar kualitas dan nilai jualnya semakin meningkat.

Pemasaran Kopi Nawangan sejauh ini masih bersifat tradisional, namun perlahan mulai merambah pasar digital melalui berbagai platform daring. Meski kapasitas produksi belum besar, minat terhadap kopi lokal terus meningkat.

“Kalau ini dibranding dengan baik dan terus dikembangkan, saya yakin Kopi Nawangan bisa bersaing di tingkat nasional. Apalagi, wisata petik kopi punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” pungkas Sukarwan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Polisi Amankan Antrean LPG 3 Kg di Pacitan, Antisipasi Rebutan Gas Melon

17 Maret 2026 - 14:18 WIB

Kelangkaan LPG 3 Kg di Pacitan Berlanjut, Antrean Panjang Mengular di Pangkalan

17 Maret 2026 - 13:47 WIB

Harga LPG 3 Kg Melebihi HET, Pemkab Pacitan Tak Berani Intervensi

17 Maret 2026 - 13:20 WIB

20.121 Penerima Bansos Desil 5 Terancam Dihapus, Skema PKH-BPNT 2026 Berubah

29 Januari 2026 - 21:48 WIB

Menjelang Nataru Dan Dampak MBG Harga Telur di Pacitan Meroket Hingga Rp30 Ribu per Kilogram 

11 Desember 2025 - 14:38 WIB

Trending di Ekonomi