Menu

Mode Gelap
Jembatan Harapan di Sungai Kalisat Data Dibobol, Hidup Hancur, Jangan Terjebak Pinjaman Online Ilegal Safari Ramadhan di PLN Nusantara Power UP Pacitan, Dirut Tekankan Keandalan dan Integritas Kerja Kecelakaan Maut di JLS Pacitan, Pemotor Terseret 30 Meter Rumah Terapi TANDA CINTA Resmi Hadir di Pacitan, Layanan Gratis bagi Anak Disabilitas Anggota Polisi di Pacitan Peringati HPN 2026 dengan Aksi Sosial Bersama Wartawan

Feature

Tanaman Porang, Umbi-Umbian Dengan Potensi Ekspor Yang Menjanjikan

badge-check


 Tanaman Porang, Umbi-Umbian Dengan Potensi  Ekspor Yang Menjanjikan Perbesar

TEGALOMBO – Porang, Komoditas Potensial yang Kini Booming di Pacitan. Porang kini menjadi salah satu komoditas unggulan yang banyak dibudidayakan di Pacitan. Tanaman ini memanfaatkan lahan kritis yang tidak produktif, dengan proses budidaya yang relatif mudah serta cocok untuk segala jenis cuaca dan musim. Bahkan, porang telah menembus pasar ekspor sebagai bahan baku pembuatan mie instan, lem, dan gel.

Seperti yang dilakukan oleh sejumlah petani di Desa Kebondalem, Kecamatan Tegalombo, mereka memanfaatkan lahan setengah kering di kawasan perbukitan untuk membudidayakan tanaman porang. Tanaman ini, yang tergolong baru di Pacitan, langsung menarik minat para petani, terutama di wilayah dengan kondisi lahan yang kurang subur.

Proses budidaya porang dimulai dari tahap pembibitan, yang umumnya menggunakan tiga metode: bubil katak, umbi kecil, atau bunga. Namun, metode bubil katak kini lebih sering digunakan karena risiko kegagalannya lebih kecil dan biayanya lebih hemat. Setelah tahap pembibitan di kantong plastik, bibit porang kemudian ditanam. Tanaman ini baru bisa dipanen ketika pohon dan daunnya menguning atau mati.

Bagian yang dipanen adalah umbi yang terdapat di pangkal batang di dalam tanah, sementara bubil katak yang tumbuh di atas daun digunakan sebagai bibit untuk budidaya berikutnya. Umbi porang dari petani biasanya dijual kepada pengepul dengan harga sekitar Rp10.000 per kilogram.

Setelah itu, pengepul mengolah umbi porang dengan merajang tipis-tipis menggunakan mesin, kemudian menjemurnya hingga kering. Umbi yang sudah berbentuk lempengan kering (chips) ini dijual ke pabrik pengolahan di Madiun dengan harga sekitar Rp70.000 per kilogram. Dari pabrik, produk porang ini kemudian dikemas untuk diekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Cina, dan sejumlah negara di Eropa.

Budidaya porang yang menjanjikan ini tidak hanya memberikan nilai tambah bagi petani di wilayah perbukitan Pacitan, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak ekonomi daerah melalui ekspor.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Data Dibobol, Hidup Hancur, Jangan Terjebak Pinjaman Online Ilegal

4 Maret 2026 - 12:02 WIB

Safari Ramadhan di PLN Nusantara Power UP Pacitan, Dirut Tekankan Keandalan dan Integritas Kerja

4 Maret 2026 - 10:00 WIB

Kelompok Tani Pacitan Terima Bantuan Alsintan dari Kementan, DPRD Ingatkan Tak Disalahgunakan

8 Februari 2026 - 17:26 WIB

252 Bonsai Ramaikan Kontes HUT Pacitan ke-281, Harga Ada yang Tembus Rp 50 Juta

6 Februari 2026 - 13:36 WIB

PLTA Pakisbaru Terbengkalai, DPRD Pacitan Dorong Difungsikan Kembali atau Dijadikan Wisata

2 Februari 2026 - 11:13 WIB

Trending di Feature