PACITAN – Situasi keamanan di Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, masih diliputi ketegangan. Pasca kasus pembunuhan yang terjadi akhir pekan lalu, enam sekolah dasar (SD) di wilayah tersebut terpaksa meliburkan kegiatan belajar mengajar sejak awal pekan ini.
Kebijakan tersebut diambil menyusul belum tertangkapnya pelaku pembunuhan yang diduga masih bersembunyi di kawasan hutan sekitar desa. Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat, terutama para orang tua siswa.
Pantauan di SD Negeri 2 Temon pada Senin (22/9/2025) menunjukkan suasana sekolah yang tidak seperti biasanya. Ruang-ruang kelas tampak kosong, halaman sekolah lengang, dan hanya beberapa guru yang terlihat hadir. Para siswa memilih mengikuti pembelajaran dari rumah demi alasan keamanan.
Salah satu guru SD Negeri 2 Temon, Sumaryati, mengatakan keputusan belajar dari rumah diambil karena orang tua merasa cemas melepas anak-anak mereka ke sekolah. Apalagi, sebagian siswa harus melewati kawasan hutan untuk berangkat dan pulang sekolah.
“Orangtua takut melepas anak-anak ke sekolah karena situasi belum kondusif. Banyak siswa rumahnya jauh dan harus melewati hutan. Untuk sementara, belajar dari rumah dianggap lebih aman,” ujarnya.
Rasa takut warga semakin meningkat setelah seorang murid SD Negeri 2 Temon berinisial AG (11) ikut menjadi korban pembacokan. Diketahui, korban merupakan anak kandung pelaku. Saat ini, AG masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr Darsono Pacitan.
Kondisi serupa juga terjadi di lima SD lainnya di Kecamatan Arjosari. Seluruh siswa mengikuti pembelajaran dari rumah sejak Senin (22/9/2025) sambil menunggu situasi benar-benar dinyatakan aman oleh aparat keamanan.
Camat Arjosari, Didik Darmawan, membenarkan adanya kekhawatiran yang dirasakan masyarakat pasca peristiwa tersebut. Ia mengungkapkan bahwa pada malam kejadian, pelaku bahkan sempat mengancam sejumlah warga, sehingga memicu kepanikan.
“Situasi memang sempat membuat warga panik. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, namun tetap waspada dan tidak lengah,” kata Didik.
Ia menambahkan, aparat TNI dan Polri bersama warga setempat terus melakukan penyisiran di kawasan hutan guna memburu pelaku. Hingga saat ini, proses pencarian masih berlangsung.
“Upaya pengejaran terus dilakukan. Kami berharap masyarakat tidak terpancing isu yang belum tentu benar dan tetap mengikuti arahan aparat,” pungkasnya.





















