LENSA PACITAN -Keterbatasan alat tangkap modern tak menyurutkan semangat nelayan di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Hingga kini, sebagian nelayan masih mempertahankan cara tradisional menangkap ikan dengan metode eretan yang dilakukan secara gotong royong di kawasan pantai dangkal.
Seperti terlihat di Pantai Desa Worawari, Kecamatan Kebonagung, suasana pantai mendadak ramai saat aktivitas penangkapan ikan eretan dimulai. Nelayan bersama warga menyiapkan jaring panjang dengan lebar puluhan meter serta tali yang kemudian diangkut menggunakan perahu ke tengah laut.
Tanpa aba-aba khusus, masing-masing warga sudah memahami perannya. Sebagian nelayan bertugas menebar jaring dari laut, sementara warga lainnya bersiap menarik tali dari daratan. Jaring eretan dipasang melingkar dari sisi barat hingga timur pantai, lalu ditarik secara bersamaan dari dua arah.
“Jaring diangkut menggunakan perahu dari barat, ujungnya sudah dikaitkan tali. Dua nelayan kemudian menebar jaring dari barat ke timur sampai ke daratan,” ujar Triyono, warga setempat, ditulis Jumat (9/1/2026).
Proses penarikan jaring yang panjangnya mencapai sekitar 800 meter membutuhkan banyak tenaga, terlebih saat ombak cukup besar. Dua kelompok warga menarik tali dari sisi barat dan timur hingga bertemu di satu titik di tengah pantai agar ikan tidak lolos.
“Dari dua sisi ditarik, cukup berat, tergantung kondisi ombak,” jelasnya.
Saat jaring mendekati bibir pantai, nelayan dengan sigap mengangkat hasil tangkapan dan memasukkannya ke dalam keranjang. Meski hasil tangkapan kali ini hanya sekitar 50 kilogram ikan, seluruh hasil tetap dibagi secara adil.
“Sekitar 50 persen untuk nelayan, sisanya dibagi kepada warga yang ikut menarik jaring,” tambah Triyono.
Menurutnya, tradisi eretan bukan sekadar aktivitas menangkap ikan, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan antarwarga. Proses eretan sendiri memakan waktu sekitar dua jam, mulai dari persiapan hingga penarikan jaring selesai.
“Menarik jaring eretan ini sudah jadi kebiasaan di sini. Selain membantu nelayan, kami juga bisa olahraga dan dapat ikan untuk lauk di rumah,” tuturnya.
Tak hanya warga Desa Worawari, warga dari desa sekitar pun kerap ikut bergotong royong. Tradisi eretan yang telah berlangsung puluhan tahun ini tetap dipertahankan karena dinilai lebih ekonomis, terutama bagi nelayan yang tidak memiliki alat tangkap memadai.
Keterbatasan itulah yang melahirkan tradisi eretan, sebagai cara nelayan Pacitan memanfaatkan potensi laut dengan peralatan sederhana, namun sarat nilai kebersamaan. (Not)





















