Menu

Mode Gelap
Razia Ramadan, Petugas Gabungan Periksa Enam Rumah Kos di Pacitan. ditemukan 4 penghuni tak Ber KTP Distribusi LPG Diklaim Aman, Warga Pacitan Tetap Kesulitan Dapat Gas Melon Pemkab Pacitan Luncurkan Program Sekolah Sak Ngajine, Integrasikan Madrasah Diniyah ke Sekolah Formal Lima Hari Hilang, Pemuda Pacitan Ditemukan Meninggal di Tepi Sungai Grindulu Inspektorat Pacitan Panggil Perangkat Desa, Evaluasi Pengelolaan Keuangan Tahun 2025 Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan di Tepi Sungai Grindulu Pacitan

Peristiwa

Gelombang Selatan Pacitan Makan Korban: Enam Nyawa Melayang dalam Sepekan

badge-check


 Gelombang Selatan Pacitan Makan Korban: Enam Nyawa Melayang dalam Sepekan Perbesar

PACITAN – Lensa Pacitan, Deru ombak pantai selatan Pacitan kembali membawa kabar duka. Dalam rentang waktu sepekan, enam orang dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan laut di berbagai lokasi pesisir. Musibah beruntun ini menjadi alarm keras bagi wisatawan dan warga untuk tidak meremehkan bahaya laut, terutama fenomena rip current dan gelombang tinggi yang kerap terjadi di kawasan ini.

Tragedi bermula pada Sabtu, 5 April 2025, saat tiga wisatawan asal Ponorogo tenggelam di muara Sungai Kedung Gombang, Dusun Soge, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo. Mereka adalah Agus Widodo (33), Ahmad Fahrudin (26), dan Zainal Mutaqin (22), yang diketahui berenang tanpa pengawasan rombongan pada siang hari.

Selang sepekan, tepatnya Sabtu, 12 April 2025, insiden kembali terjadi di Pantai Klayar, Desa Sendang, Kecamatan Donorojo. Tiga remaja terseret ombak saat bermain air. Dua di antaranya, Ahmad Yudhianto (18) dan Irvan Arrosyidin (16) asal Boyolali, tewas, sementara satu korban lainnya berhasil selamat.

Masih di hari yang sama, seorang pemancing bernama Suraji, warga Dusun Watuadeg, Desa Karangnongko, Kecamatan Kebonagung, hilang tersapu ombak saat memancing di atas batu karang. Hingga Minggu (13/4), tim SAR masih melakukan pencarian di sekitar lokasi kejadian.

Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko, mengungkapkan bahwa fenomena arus balik atau rip current menjadi salah satu penyebab utama tenggelamnya korban. Ia mengingatkan, arus ini sangat kuat dan berbahaya, serta sulit dikenali oleh orang awam.

“Arus ini cenderung terlihat datar, berbusa, dan gelap. Dalam hitungan detik, korban bisa terseret ke tengah laut,” terang Erwin.

BPBD telah memasang sejumlah larangan berenang di titik-titik rawan dan secara berkala memberikan imbauan melalui berbagai media. “Kami mohon kesadaran wisatawan dan masyarakat. Jangan abaikan rambu yang ada. Keselamatan adalah yang utama,” tegasnya.

Dengan cuaca yang masih tak menentu dan gelombang tinggi yang bisa datang sewaktu-waktu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan tidak memaksakan diri beraktivitas di kawasan pesisir yang berisiko tinggi. (not)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Lima Hari Hilang, Pemuda Pacitan Ditemukan Meninggal di Tepi Sungai Grindulu

11 Maret 2026 - 11:39 WIB

Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan di Tepi Sungai Grindulu Pacitan

11 Maret 2026 - 11:34 WIB

Kecelakaan Maut di JLS Pacitan, Pemotor Terseret 30 Meter

18 Februari 2026 - 23:48 WIB

Bendahara Desa Klesem Jadi Atensi Polisi, Kapolres Pacitan Kumpulkan 30 Kades

15 Januari 2026 - 19:24 WIB

Lima ODGJ di Pacitan Direhabilitasi, Kapolres Turun Langsung Lepas Pasung Karmin

15 Januari 2026 - 19:07 WIB

Trending di Peristiwa